AJARAN ASTHABRATA


AJARAN ASTHABRATA

Asthabrata adalah ilmu atau wahyu kepemimpinan yang dimiliki oleh Begawan Kesawasidhi yang merupakan titisan Bethara (dewa) Wisnu.

Ketika berita tentang adanya ilmu asthabrata di tangan Begawan Kesawasidhi di Gunung Kutharungu mulai tersiar, banyak pihak yang ingin memperoleh ajaran tersebut dari sang Begawan. Salah satunya adalah Duryudana atau biasa juga disebut Prabu Suyudhana. Duryudana adalah sulung Kurawa bersaudara yang menjadi raja di Kerajaan Astina. Dengan mengandalkan kekuatan jasmani, Duryudana merasa sangat mampu memperoleh asthabrata. Dia ingin merebut wahyu kepemimpinan tersebut dengan kekuatan kurawanya yang dipimpin Adipati Karna. Bahkan bersama penasehatnya yang licik, Patih Sengkuni, mereka berharap tak hanya mendapatkan wahyunya, namun sekaligus memboyong sang Begawan ke Astina.

Berbekal akal-akalan dan tanpa dibarengi tapa brata (semadhi/olah batin), rombongan Kurawa ingin segera mendapatkan sasarannya. Alih-alih memboyong sang Begawan ke Astina, ketika Adipati Karna berhasil bertemu Begawan Kesawasidhi, wahyu sri makutharama tak diberikan. Tak ayal, Adipati Karna marah. Dia mengancam akan memanah Begawan Kesawasidhi.

Naas, anak panah kunta wijayandanu tersebut tertangkap oleh Anoman sebelum mengenai sang Begawan. Anoman pun membawa lari anak panah itu sehingga Adipati Karna kehilangan salah satu senjata andalannya, sehingga adipati karna gagal menjalankan perintah dan Duryudana pun gagal mendapatkan wahyu yang diidamkannya.

Pihak lain yang juga ingin mendapatkan wahyu sri makutharama adalah Arjuna. Arjuna adalah penengah Pandawa yang bersaudara sepupu dengan Kurawa. Dengan didampingi para punakawan, Arjuna berbekal olah batin demi mendapatkan wahyu kepemimpinan tersebut. Perjalanan berat dan penuh ujian ditempuhnya. Berkat kesabaran dan keuletannya serta berbekal olah rohani inilah Arjuna akhirnya mendapatkan wahyu sri makutharama dari Begawan Kesawasidhi.

Sebenarnya, apakah wahyu sri makutharama yang menjadi rebutan banyak tokoh itu? Wahyu ini berisi ajaran kepemimpinan dengan bersumber delapan watak unsur alam sehingga disebut asthabrata. Astha berarti delapan dan brata berarti ajaran.

Asthabrata sebenarnya landasan yang digunakan Sri Rama ketika menjadi raja untuk menjadikan negaranya adil, makmur, sejahtera lahir dan batin. Wahyu sri makutharama atau asthabrata terdiri atas delapan unsure alam yang meliputi bumi, angin, air, bulan, surya, angkasa, api, dan bintang.

  1. Bumi : artinya sikap pemimpin bangsa harus meniru watak bumi atau momot-mengku bagi orang jawa, dimana bumi adalah wadah untuk apa saja, baik atau buruk, yang diolahnya sehingga berguna bagi kehidupan manusia. Murah hati dan berusaha tidak mengecewakan rakyat.
  2. Air : artinya jujur, bersih, berlaku adil, penuh kasing sayang, dan menghargai persamaan hak pada rakyatnya.
  3. Api : artinya seorang pemimpin haruslah pemberi semangat terhadap rakyatnya,menegakkan hukum secara tegas, memberantas kejahatan tanpa pandang bulu, berani membela yang benar, rawe-rawe rantas, malang-malang tuntas.
  4. Angin : artinya menghidupi dan menciptakan rasa sejuk bagi rakyatnya, selalu memperhatikan celah-celah di tempat serumit apapun, bisa sangat lembut serta bersahaja dan luwes, tapi juga bisa keras melebihi batas.
  5. Surya : memberikan semangat hidup untuk berkarya membangun wilayahnya agar hidup benar-benar hidup dan mengatur waktu secara disiplin.
  6. Rembulan : pemberi kedamaian dan kebahagiaan, penuh kasih sayang dan berwibawa, tapi juga mencekam dan seram, tidak mengancam tapi disegani. mampu berperan saat banyak masalah dan menumbuhkan semangat yang penuh harapan indah.
  7. Bintang : artinya pemberi harapan-harapan baik kepada rakyatnya setinggi bintang dilangit, tapi rendah hati dan tidak suka menonjolkan diri, disamping harus mengakui kelebihan-kelebihan orang lain,menjadi teladan, tidak plin-plan, dan mampu menjadi pedoman. Artinya, pemimpin tidak boleh mudah terpengaruh kepentingan segolongan manusia dan melupakan kepentingan yang lebih besar.
  8. Angkasa : artinya pemberi perlindungan dan payung, berpandangan tidak sempit, banyak pengetahuannya tentang hidup dan kehidupan,, sikap yang sabar, tidak pendendam, luas di hati seluas langit tanpa batas, mampu menampung dan menanggapi masukan dari pihak mana pun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s