KOMUNIKASI INTERPERSONAL


KOMUNIKASI INTERPERSONAL

Komunikasi interpersonal adalah suatu proses pertukaran makna antara orang-orang yang saling berkomunikasi. Maksud dari Proses ini, yaitu mengacu pada perubahan dan tindakan (action) yang berlangsung terus-menerus. Menurut Joseph A. Devito, komunikasi antarpersonal adalah proses pengiriman dan penerimaan pesan-pesan antara dua orang atau diantara sekelompok kecil orang-orang, dengan beberapa efek dan beberapa umpan balik seketika. Komunikasi antarpersonal dinilai paling baik dalam kegiatan mengubah sikap, kepercayaan, opini, dan perilaku komunikan. Alasannya adalah karena komunikasi antarpersonal dilakukan secara tatap muka dimana antara komunikator dan komunikan saling terjadi kontak pribadi; pribadi komunikator menyentuh pribadi komunikan, sehingga aka nada umpan balik yang seketika (perkataan, ekspresi wajah, ataupun gesture). Komunikasi inilah yang dianggap sebagai suatu teknik psikologis manusiawi.

Berbicara mengenai efektivitas komunikasi antarpersonal, Mc. Crosky, Larson dan Knapp menyatakan bahwa komunikasi yang efektif dapat dicapai dengan mengusahakan accuracy yang paling tinggi derajatnya dalam setiap situasi.

Untuk kesamaan dan ketidak samaan dalam derajat pasangan komunikator dan komunikan dalam proses komunikasi, Everett M. Rogers mengetengahkan istilah homophily dan heterophily yang dapat menjelaskan hubungan komunikator dan komunikan dalam proses komunikasi antar personal. Homophily adalah istilah yang menggambarkan derajat pasangan perorangan yang berinteraksi yang memiliki kesamaan dalam sifatnya (attribute). Heterophily adalahh derajat pasangan orang-orang yang berinteraksi yang berada dalam sifat-sifat tertentu. Dalam situasi bebas memilih, dimana komunikator dapat berinteraksi dengan salah seorang dari sejumlah komunikan.

Menurut para psikolog seperti Fordon W. Allport, Erich Fromm, Martin Buber, Carl Rogers dan Arnold P. Goldstein, menyatakan bahwa hubungan antar personalvyang baik akan membuat, antara lain :

  1. Makin terbukanya seorang pasien mengungkapkan perasaannya,
  2. Makin cenderung ia meneliti perasaanya secara mendalam beserta penolongnya,
  3. Makin cendereng ia mendengar denagn penuh perhatian dan bertindak atas nasihat yang diberikan penolongnya.

Dalam komunikasi antarpersonal kita mencoba untuk menginterpretasikan makna yang menyangkut diri kita sendiri, diri orang lain, dan hubungan yang terjadi. Kesemuanya terjadi melalui suatu proses piker yang melibatkan penarikan kesimpulan. Masing-masing individu secara simultan akan menggunakan tiga tataran yang berbeda, yaitu persepsi, metapersepsi dan metametapersepsi. Ketiganya akan saling mempengaruhi sepanjang proses komunikasi.

Secara teoritis komunikasi antarpersonal diklasifikasikan menjadi dua jenis menurut sifatnya, antara lain :

  1. Komunikasi diadik ( dyadic communication ) adalah komunikasi antarpersonal yang berlangsung antara dua orang yakni seorang komunikator yang menyampaikan pesan dan seorang lagi komunikan yang menerima pesan.
  2. Komunikasi tridadik (tridadic communication) adalah komunikasi antarpersonal yang pelkunya terdiri dari tiga orang, yakni seorang komunikator dan dua orang komunikan.

Menurut Judy C. Pearson, menyebutkan ada enam karakteristik komunikasi antarpersonal, antaralain :

  1. Komunikasi antarpersonal dimulai dengan diri pribadi (self)
  2. Komunikasi antarpersonal bersifat transaksional
  3. Komunikasi antarpersonal mencakup aspek-aspek isi pesan dan hubungan antarpribadi.
  4. Komunikasi antarpersonal mensyaratkan adanya kedekatan fisik antara pihak-pihak yang berkomunikasi
  5. Komunikasi antarpersonal melibatkan pihak-pihak yang saling tergantung satu dengan lainnya (interdependen) dalam proses komunikasi
  6. Komunikasi antarpersonal tidak dapat diubah maupun diulang

TEORI-TEORI KOMUNIKASI INTERPERSONAL

1. Sosial Exchange Model (Model Pertukaran Sosial)

Teori ini menelaah bagaimana kontribusi seseorang dalam suatu hubungan mempengaruhi kontribusi orang lain. Pencetus teori ini adalah Thibaut dan Kelley, yang mengemukakan bahwa orang meng evaluasi hubungan dengan orang lain. Model ini  memandang hubungan antarpersonal sebagai suatu transaksi dagang, maksudnya adalah orang hubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya.

Asumsi Dasar Sosial Exchange Model

Asumsi dasar yang mendasari seluruh analisis Thibaut dan Kelley, asumsi dasar yang mendasari seluruh analisisnya bahwa setiap individu secara sukarela memasuki dan tinggal dalm hubungan social hanya selama hubungan tersebut cukup memuaskan di tinjau dari beberapa segi, antara lain :

  1. Ganjaran adalah setiap akibat yang dinilai positif yang diperoleh seseorang dari suatu hubungan.
  2. Biaya adalah akibat yang dinilai negative yang terjadi dalam suatu hubungan
  3. Hasil atau laba adalah ganjaran dikurangi biaya
  4. Tingkat perbandingan menunjukan ukuran baku (standar) yang dipaki sebagai criteria dalam menilai hubungan individu pada waktu sekarang.

Dengan mempertimbangkan konsekuensinya, khusus terhadap ganjaran yang diperoleh dan upaya yang telah dilakukan, orang akan memutuskan untuk tetap tinggal dalam hubungan tersebut atau meninggalkannya. Ukuran bagi keseimbangan antara ganjaran dan upaya ini disebut comparison levels, dimana di atas ambang ukuran tersebut orangkan merasa puas dengan hubungan.

Roloff (1981) mengemukakan bahwa asumsi tentang perhitungan antara ganjaran dan upaya tidak bahwa orang selalu berusaha untuk saling mengekploitasi, tetapi bahwa orang lebih memilih lingkungan dan hubungan yang dapat memberikan hasil yang diinginkan. Hubungan yang ideal akan terjadi bilamana kedua belah pihak dapat saling memberikan cukup keuntungan sehingga berhubungan tersebut menjadi sumber yang dapat diandalkan bagi kepuasan kedua belah pihak.

2. Transactional Analysis Theory (Teori Analisis Transaksional)

Teori analisis transaksional memandang hubungan sebagai sebuah system. Setiap system memiliki sifat-sifat structural, integrative, dan medan. Semua system terdiri dari subsistem-subsistem yang saling tergantung dan bertindak bersama sebagai satu kesatuan.

Teori ini dikemukakan oleh seorang psikiater jenius Amerika bernama Eric Berne yang lahir di Montreal Kanada 10 Mei 1910. Kemunculan teori ini tidak dapat dilepaskan dari perasaan dari perasaan kecewa Berne terhadap praktek psikiatri yang menurutnya menuntut biaya terlalu mahal tetapi hasil yang dapat diperdebatkan serta sukar dimengerti. Atas dasar inilah, Berne terdorong untuk mengahsilkan teori dan metode psikiatri yang betul-betul dapat mengak misteri dibalik perilaku manusia yaitu pada otak yang merupakan suatu system.

Haree dan Lamb (1996) mendefinisikan teori analisis transaksional sebagai sesuatu teori kepribadian dan tingkah laku social yang dipakai sebagai wahana untuk psikioterapi dan perubahan social yang lebih umum. Konsep kepribadian dan prilaku social dalam teori ini dipandang sebagai satu kesatuan dimana struktur kepribadian seseorang diyakini akan mempengaruhi cara yang bersangkutan berinteraksi secara social. Komunikasi atau tindakan membina hubungan dengan orang lain merupakan wujud interaksi social. Karena alasan ini kemudian analisis transaksional menempatkan tindakan komunikasi antar manusia sebagai bagian yang tak terlepaskan.

menurut teori analisis transaksional, ketika dua lebih orang bertemu, cepat atau lambat; salah satu dari mereka akan menyapa atau memberikan indikasi lainnya atas kehadiran orang lain. Hal ini disebut “ Stimulus Transaksional”. Orang lain tersebut kemudian akan mengatakan atau melakukan sesuatu yang berkaitan dengan stimulus yang diterima. Respon yang diberikan orang lain tersebut dinamai “Tanggapan Transaksional”. Orang yang menyampaikan stimulus disebut “agen” dan orang yang merespon disebut “Responden”.

Asumsi Dasar Teori

Berne mengajukan beberapa asumsi dasar yang melandasi teorinya, yaitu :

  1. Manusia pada dasarnya dalam keadaan “oke”. Ini lebih merupakan pernyataan kualitas atau potensial ketimbang keadaan actual. Masing-masing manusia selalu berniali, berguna dan memiliki kemampuan-kemampuan tertentu sehingga layak diperlakukan secara patut.
  2. Semua orang memiliki kapasitas untuk berfikir
  3. Manusia memutuskan sendiri jalan hidup mereka sendiri dengan membuat keputusan pada naskah awal kehidupan mereka, dan keputusan itu dapat diubah.

Tujuan teori analisis transaksional adalah menghasilkan hubungan atau komunikasi yang efektif dan memuaskan kedua belah pihak. Menurut teori ini titik tolak untuk memahami perilaku komunikasi manusia adalah dengan memahami sumber yang mendorong perilaku tersebut yakni Egostate.

3. Teori Proksemik

Posemik adalah studi yang mempelajari posisi tubuh dan jarak tubuh (ruang antar tubuh sewaktu orang berkomunikasi antarpersonal). Adalah Edward T.Hall sebagai bapak dari studi prosemik yang mengenalkan teori ini.

Proksemik menurut Hall adalah bentuk lain untuk menjelaskan hubungan antara pengamatanya dan teori tentang bagaimana seseorang menggunakan ruang yang khusus dalam kebudayaan dan kebiasaan untuk berkomunikasi antarpersonal. Sebuah definisi khusus lagi tentang proksemik adalah studi tentang bagaiman seorang secara tidak sadar terlibat dalam struktur ruang atau jarak fisik antara manusia sebagai sesuatu keteraturan, tertib pergaulan setiap harinya. Konsep ini sebenarnya konsep yang dianalogikan dari studi-studi para arsitek wilayah perkotaan tentang bagaimana pengamanan suatu kota sebagai pemukiman.

Asumsi Dasar Teori

Ada tiga bentuk dasar ruang antarpersonal yang dikemukakan Hall, antara lain :

  1. Fixed feature space adalah suatu struktur yang tidak dapat digerakan tanpa persetujuan kita.
  2. Semi fixed feature space adalah struktur ruang yang sebagaiannya bisa di gerakan atas kehendak kita atau jangkauan kita.
  3. Informal Space adalah ruang atau wilayah di sekitar badan kita dengan orang lain.

Hall mengemukakan bahwa pada saat seseorang terlibat dalam komunikasi antarpersonal dengan orang lain maka bisa terjadi delapan kemungkinan katagori utama dari analisis proksemik, antara lain :

  1. Posture-sex factor, yaitu jarak antara pasangan waktu berhubungan sex.
  2. Sociofugal-sociopetal axis, adalah adanya hambatan ruang antarpersonaldalam berinteraksi, jika tidak ada hambatan disebut socialpetal axis.
  3. Kinesthetic factor, yaitu perilaku prosemik dengan kebiasaan menyentuh tubuh sehingga menunjukan tingkat keakraban antarpartisipan.
  4. Perilaku meraba dan menyentuh, seseorang mungkin dilibatkan dalam setiap cara meraba-raba, menyentuh, memegang, mengusap, menyinggung, mengecapi makanan dan minuman, memperpanjang pegangan, membuat tekanan-tekanan pada pegangan, sentuhan mendadak, ataupun kebetulan menyentuh.
  5. Visual code, kebiasaan kontak mata dengan jangkauan (saling memandang) dan tidak ada kontak sama sekali.
  6. Thermal code, mengamati kehangatan dari komunikator terhadap lainnya.
  7. Olfactory  code, factor ini termasuk jenis dan tingkat kehangatan yang terlibat waktu orang bercakap-cakap.
  8. Voice loudness, kekuatan suara waktu berbicara dihubungkan secara langsung dengan ruang antarpersonal.

2 thoughts on “KOMUNIKASI INTERPERSONAL

  1. via oktaviatun mengatakan:

    makasi buat artikel’a🙂
    liat blog saya juga..
    akvifore.blogspot.com

  2. dinda mengatakan:

    teori komunikasi interpersonal dengan antarpersonal sama ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s