Rangkuman


  1. Akulturasi : Proses sosial yang timbul apabila sekelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan pada unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing sehingga unsur-unsur asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri, tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu.
  2. Asimilasi : suatu proses sosial yang terjadi pada berbagai golongan manusia dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda setelah mereka bergaul secara intensif, sehingga sifat khas dari unsur-unsur kebudayaan golongan-golongan itu masing-masing berubah menjadi unsur-unsur kebudayaan campuran.
  3. Rogers (Depari : 1988) mengungkapkan ada enam ciri Komunikasi antar pribadi yaitu :

1. Arus pesan cenderung dua arah

2. Konteks Komunikasi tatap muka

3. Tingkat umpan balik yang tinggi

4. Kemampuan mengatasi selektivitas

5. Kecepatan mengungkap sasaran yang besar sangat lamban

6. Efek tampak pada perubahan sikap.

  1. Transaksi Silang (Crossed Transactions)

Transaksi ini terjadi jika berita/perilaku yang diperlihatkan oleh suatu ego state mendapatkan reaksi yang tidak diharapkan oleh ego state tersebut.

  1. Berzonsky (Cahyaningrum, 2002) menyatakan lebih lanjut bahwa ada empat aspek konsep diri, yaitu :

1)      Aspek fisik yaitu penilaian seseorang terhadap sesuatu yang dimilikinya.

2)      Aspek psikis yaitu meliputi pikiran, perasaan dan sikap terhadap dirinya.

3)      Aspek sosial yaitu peranan sosial yang dimainkan individu dan penilaian orang lain terhadap perannya.

4)      Aspek moral yaitu meliputi nilai– nilai dan prinsip–prinsip yang memberi arti dan arah bagi kehidupan seseorang.

  1. Pandangan individu tentang dirinya tersebut dipengaruhi oleh peristiwa belajar dan pengalaman, terutama yang berhubungan erat dengan dirinya, seperti harga diri, kegagalan dan kesuksesan (Surachman dalam Rahmah, 2003).

1)      Physical self (diri secara fisik), yaitu penilaian individu terhadap fisik yang dimiliki. Dalam hal ini individu dapat menerima keadaan fisik yang dimilikinya. Semua subjek merasa keadaan fisik yang dimilikinya tidak jauh berbeda dengan orang Indonesia pada umumnya. Memiliki dimensi tubuh ideal, tidak kurang satu apapun dengan karakteristik seperti mata sipit, kulit kuning, fisik yang kuat dan besar, dan cara berpakaian berwarna mencolok.

2)      Family self (diri secara keluarga), yaitu keadaan individu di dalam keluarganya, misalnya adanya penerimaan keluarga terhadap keberadaan individu sebagai anggota keluarga. Setelah menganut Islam subjek merasa tidak memiliki hambatan dalam berhubungan dengan keluarganya. Hal ini terlihat dari tidak mengurangi kedekatan dalam berkomunikasi dan peranan subjek yang selalu dibutuhkan oleh keluarganya.

3)     Social self  (diri secara sosial), yaitu keadaan individu di dalam masyarakat. Keempat subjek memiliki social self yang lebih baik setelah masuk agama Islam karena dengan masuk Islam subjek sering mengikuti kegiatan-kegiatan kemasyarakatan.

4)      Personal self  (diri secara pribadi), yaitu sikap individu terhadap dirinya baik secara sadar maupun tidak sadar. Dalam menjalani kehidupan kadang muncul ketidakyakinan atas kemampuan dalam diri yang bisa menghambat proses pengembangan diri.

5)      Moral ethical self  (diri secara etika moral), yaitu gambaran individu terhadap hubungannya dengan Tuhan dan peraturan yang berlaku. Keempat subjek cukup konsisten dalam menjalankan perintah-Nya. Hal ini terlihat dari usaha subjek yang memperdalam tentang agama Islam baik melalui pengajian, dakwah, maupun buku-buku keagamaan.

  1. Dengan Relasi

Beberapa kondisi dasar dalam hubungan relasi :

  1. Empathy

Menunjuk pada kemampuan anda untuk memahami dengan tepat perasaan dan pengalaman subjektif yang dialami relasi. Mendengarkan secara aktif apa yang dikatakan relasi, merupakan teknik untuk memunculkan empati terhadap relasi.

  1. Positive Regard

Keyakinan bahwa relasi adalah orang yang berharga dan memperlakukan mereka secara hormat, dengan mengabaikan penampilan, perilaku, keadaan hidupnya atau memberikan alasan mengapa mereka menjadi relasi. Positive regard diperlukan bagi anda untuk menangkis kecenderungan memberikan penilaian bahwa relasi adalah orang yang telah berbuat kesalahan.

  1. Personal Warmth

Yaitu harus menampilkan diri sebagai pribadi yang ramah dan hangat.

  1. Genuineness

Anda harus memperlihatkan keaslian yang muncul secara spontan (tidak dibuat-buat), dan tidak bersikap bertahan, apa yang dikatakan harus sesuai dengan apa yang dilakukan, berbicara benar-benar keluar dari hati.

Guna menampilkan perasaan empathy, positive regard, personal warmth, dan genuine, maka ada beberapa hal penting dalam menciptakan hubungan relasi yang efektif.

Tahap-tahap Perkembangan Relasi

  1. Initiating (awal)

Dimulai saat kontak awal dengan orang lain. Ada isyarat untuk membuka percakapan dan mencari kata-kata untuk pembuka.

  1. Experimenting (coba- coba)

Menjelajahi orang lain lebih jauh dan sering menggunakan small talk.

  1. Intensifying (pendalaman)

Kedua pihak menjadi sahabat karib dan mulai berbagi hal yang sama secara lebih terbuka serta lebih baik dalam memprediksi perilaku masing-masing. Dalam perasaan mulai terbentuk perasaan kekitaan (we feeling).

  1. Integrating

Dua individu dikenal sebagai pasangan serasi. Sinkronisasi interpersonal meningkat.

  1. Bonding

Interaksi menunjukkan adanya komitmen diantara keduanya dan
terjalin dalam suatu kontrak formal
. Relasi menjadi melembaga. Relasi
menunjukkan karakter yang baru dan sifat informal luntur yang
diarahkan oleh aturan (hak dan kewajiban).

  1. Differentiating

kita berubah kembali pada orientasi ‘ke-akuan’, mereka minta dibedakan antara teman kita dan teman saya. Hal ini menunjukkan adanya masalah dalam relasi, proses pemisahan telah dimulai.

  1. Circumscribing (membentengi/menutup diri)

Komunikasi menurun baik secara kualitas maupun kuantitas. Membatasi bidang pembicaraan yang terbuka demi keamanan. Topik tidak dibahas secara bebas dengan kedalaman yang sebenarnya. Relasi ditandai dengan kurangnya energi, penyusutan kepentingan dan kelelahan perasaan.

  1. Stagnating

Mereka merasa tidak lagi perlu berhubungan, karena tahu interaksi
yang akan dihasilkan.
Mereka menganggap lebih baik tidak bicara. Komunikasi terhenti, dan bekas hubungan hanya tinggal bayangan. Sifat hubungan mereka seperti dengan orang lain.

  1. Avoiding

Menghindari kontak satu sama lain. Hubungan ‘face to face’ atau
‘voice to voice’ sangat tidak menyenangkan. Tanda-tanda untuk berpisah semakin jelas.

  1. Termination

Dapat terjadi bila keduanya setuju. Berakhirnya hubungan dapat terjadi dengan cepat atau lambat, berakhir dengan baik atau pahit.

  1. Ada empat elemen yang muncul dari definisi yang dikemukakan oleh Adler dan Rodman tersebut, yaitu :
  1. Elemen pertama adalah interaksi dalam komunikasi kelompok merupakan faktor yang penting, karena melalui interaksi inilah, kita dapat melihat perbedaan antara kelompok dengan istilah yang disebut dengan coact. Coact adalah sekumpulan orang yang secara serentak terkait dalam aktivitas yang sama namun tanpa komunikasi satu sama lain. Misalnya, mahasiswa yang hanya secara pasif mendengarkan suatu perkuliahan, secara teknis belum dapat disebut sebagai kelompok. Mereka dapat dikatakan sebagai kelompok apabila sudah mulai mempertukarkan pesan dengan dosen atau rekan mahasiswa yang lain.
  1. Elemen yang kedua adalah waktu. Sekumpulan orang yang berinteraksi untuk jangka waktu yang singkat, tidak dapat digolongkan sebagai kelompok. Kelompok mempersyaratkan interaksi dalam jangka waktu yang panjang, karena dengan interaksi ini akan dimiliki karakteristik atau ciri yang tidak dipunyai oleh kumpulan yang bersifat sementara.
  1. Elemen yang ketiga adalah ukuran atau jumlah partisipan dalam komunikasi kelompk. Tidak ada ukuran yang pasti mengenai jumlah anggota dalam suatu kelompok. Ada yang memberi batas 3-8 orang, 3-15 orang dan 3-20 orang. Untuk mengatasi perbedaan jumlah anggota tersebut, muncul konsep yang dikenal dengan smallness, yaitu kemampuan setiap anggota kelompk untuk dapat mengenal dan memberi reaksi terhadap anggota kelompok lainnya. Dengan smallness ini, kuantitas tidak dipersoalkan sepanjang setiap anggota mampu mengenal dan memberi rekasi pada anggota lain atau setiap anggota mampu melihat dan mendengar anggota yang lain/seperti yang dikemukakan dalam definisi pertama.
  2. Elemen terakhir adalah tujuan yang mengandung pengertian bahwa keanggotaan dalam suatu kelompok akan membantu individu yang menjadi anggota kelompok tersebut dapat mewujudkan satu atau lebih tujuannya.
  1. Berdasarkan penelitian yang berkembang pada periode selanjutnya, diperoleh hipotesisi mengenai faktor-faktor determinan yang terdapat pada pikiran kelompok, yaitu (Sarwono, 1999):
    1. Faktor Anteseden

Kalau hal-hal yang mendahului ditujukan untuk meningkatkan pikiran kelompok, maka keputusan yang dibuat oleh kelompok akan bernilai buruk. Akan tetapi, kalau hal-hal yang mendahului ditujukan untuk mencegah pikiran kelompok, maka keputusan yang akan dibuat oleh kelompok akan bernilai baik.

  1. Faktor Kebulatan Suara

Kelompok yang mengharuskan suara bulat justru lebih sering terjebak dalam pikiran kelompok, dari pada yang menggunakan sistem suara terbanyak .

  1. Faktor Ikatan Sosial-Emosional

Kelompok yang ikatan sosial-emosionalnya tinggi cenderung mengembangkan pikiran kelompok, sedangkan kelompok yang ikatannya lugas dan berdasarkan tugas belaka cenderung lebih rendah pikiran kelompoknya.

  1. Toleransi terhadap Kesalahan

Pikiran kelompok lebih besar kalau kesalahan-kesalahan dibiarkan dari pada tidak ada toleransi atas kesalahan-kesalahan yang ada .

10. West dan Turner (2007:299) menggarisbawahi tiga asumsi pokok teori strukturasi adaptif, yaitu:

1.   Kelompok dan organisasi diproduksi dan direproduksi melalui penggunaan aturan dan sumber daya.

2.   Aturan komunikasi berfungsi baik sebagai sebagai medium maupun hasil akhir dari interaksi.

3.   Strukturasi kekuasaan ada di dalam organisasi dan menuntut proses pengambilan keputusan dengan menyediakan informasi mengenai bagaimana cara untuk mencapai tujuan kita dengan cara yang terbaik.

DeVito lebih menekankan pada struktur jaringan komunikasi yang terjadi dalam kelompok atau organisasi. Menurut DeVito (1997), ada lima struktur jaringan komunikasi kelompok. Kelima struktur tersebut adalah: struktur lingkaran, struktur roda, struktur Y, struktur rantai, dan struktur semua saluran.

a)      Struktur lingkaran

Struktur lingkaran tidak memiliki pemimpin. Semua anggota posisinya sama. Mereka memiliki wewenang atau kekuatan yang sama untuk mempengaruhi kelompok. Setiap anggota bisa berkomunikasi dengan dua anggota lain di sisinya.

b) Struktur roda

Struktur roda memiliki pemimpin yang jelas, yaitu yang posisinya di pusat. Orang ini merupakan satu-satunya yang dapat mengirim dan menerima pesan dari semua anggota. Oleh karena itu, jika seorang anggota ingin berkomunikasi dengan anggota lain, maka pesannya harus disampaikan melalui pemimpinnya.

c) Struktur Y

StrukturY relatif kurang tersentralisasi dibanding struktur roda, tetapi lebih tersentralisasi dibanding dengan pola lainnya. Pada struktur Y juga terdapat pemimpin yang jelas. Tetapi satu anggota lain berperan sebagai pemimpin kedua. Anggota ini dan mengirimkan dan menerima pesan dari dua orang lainnya. Ketiga anggota lainnya komunikasinya terbatas hanya dengan satu orang lainnya.

d) Struktur rantai

Struktur rantai sama dengan struktur lingkaran kecuali bahwa para anggota yang paling ujung hanya dapat berkomunikasi dengan satu orang saja. Keadaan terpusat juga terdapat disini. Orang yang berada di posisi tengah lebih berperan sebagai pemimpin daripada mereka yang berada di posisis lain.

e) Struktur semua saluran

Struktur semua saluran atau pola bintang hampir sama dengan struktur lingkaran dalam arti semua anggota adalah sama dan semuanya juga memiliki kekuatan yang sama untuk mempengaruhi anggota lainnya. Akan tetapi, dalam struktur semua saluran, setiap anggota bisa berkomunikasi dengan setiap anggota lainnya. Pola ini memungkinkan adanya partisipasi anggota secara optimum. Dalam hubungan dengan prestasi kelompok, tipe roda menghasilkan produk kelompok tercepat dan terorganisir.

Sumadiria (2004) mengatakan ciri-ciri pers adalah sebagai berikut:

1.   Periodesitas. Pers harus terbit secara teratur, periodek, misalnya setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, dan sebagainya. Pers harus konsisten dalam pilihan penerbitannya ini.

2.   Publisitas. Pers ditujukan (disebarkan) kepada khalayak sasaran yang sangat heterogen. Apa yang dimaksud heterogen menunjuk dua hal, yaitu geografis dan psikografis. Geofrafis menunjuk pada data administrasi kependudukan, seperti jenis kelamin, kelompok usia, suku bangsa, agama, tingkat pendidikan, tempat tinggal, pekerjaan, dan sebagainya. Sedangkan psikografis menunjuk pada karakter, sifat kepribadian, kebiasaan, adat istiadat, dan sebagainya.

3.   Aktualitas. Informasi apapun yang disuguhkan media pers harus mengandung unsur kebaruan, menunjuk kepada peristiwa yang benar-benar baru terjadi atau sedang terjadi. Secara etimologis, aktualitas (actuality) mengandung arti kini dan keadaan sebenarnya, secara teknis jurnalistik, aktualitas mengandung tiga dimensi: kalender;waktu; masalah. Aktualitas kalender berarti merujuk kepada berbagai peristiwa yang sudah tercantum atau terjadwal dalam kalender. Aktualitas waktu berkaiutan dengan peristiwa yang baru saja terjadi, atau sesaat lagi akan terjadi. Aktualitas masalah berhubungan dengan peristiwa yang dilihat dari topiknya, sifatnya, dimensi dan dampaknya, kharakteristiknya, mencerminkan fenomena yang senantiasa mengandung unsur kebaruan.

4. Universalitas. Berkaitan dengan kesemestaan pers dilihat dari sumbernya dan dari keanekaragaman materi isinya.

5.  Objektivitas. Merupakan nilai etika dan moral yang harus dipegang teguh oleh surat kabar dalam menjalankan profesi jurnalistiknya. Setiap berita yang disuguhkan itu harus dapat dipercaya dan menarik perhatian pembaca.

Ketiga pilar itu adalah:

1.   Idealisme. Dalam pasal 6 UU Pers no 40 tahun 1999 dinyatakan, pers nasional melaksanakan peranan sebagai:

a. Memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui;

b. Menegakkan nilai-nilai dasar demokrasi dan hak-hak azasi manusia serta menghormati kebhinekaan;

c. Mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat, dan benar;

d. Melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum;

e. Memperjuangkan keadilan dan kebenaran.

2.   Komersialisme. Pers harus mempunyai kekuatan dan keseimbangan.

3.   Profesionalisme. Profesianalisme adalah isme atau paham yang menilai tinggi keahlian profesional khususnya, atau kemampuan pribadi pada umumnya, sebagai alat utama untuk mencapai keberhasilan.

  1. Libertarian dengan ciri-cirinya :
    1. Kebenaran milik massa, berdasarkan pilihannya atas beberapa alternative. Tidak mutlak dari Negara.
    2. Pers sebagai mitra mencari kebenaran. Bukan instrumen penguasa.
    3. Media massa sebagai pasar ide dan pendapat.

William R. Bascom mengemukakan fungsi-fungsi pokok folklor sebagai media tradisional adalah sebagai berikut:

  1. Sebagai sistem proyeksi ( projective system ).
  2. Sebagai pengesahan / penguat adat.
  3. Sebagai alat pendidikan ( pedagogical device ).
  4. Sebagai alat paksaan dan pengendalian sosial agar norma-norma masyarakat dipatuhi oleh anggota kolektifnya ( Danandjaja, 1987 ) .

Pemerintahan berasal dari kata pemerintah, dan yang berasal dari kata perintah. Dan dalam Kamus Bahasa Indonesia, kata-kata itu berarti:

a. Perintah adalah perkataan yang bermakna menyuruh melakukan sesuatau

b. Pemerintah adalah kekuasaan yang memerintah suatu wilayah, daerah, atau, Negara.

c. Pemerintahan adalah perbuatan, cara, hal, urusan dalam memerintah

Ciri-ciri sistem pemerintahannya sistem parlementer kabinet semu (Quasy Parlementary):

  • Presiden membentuk kabinet atau dewan menteri sesuai anjuran pembentuk kabinet.
  • Menteri-menteri dalam bersidang dipimpin oleh perdana menteri.
  • Presiden bersama menteri merupakan pemerintah.
  • Presiden juga berkedudukan sebagai kepala negara.
  • Menteri-menteri bertanggungjawab baik sendiri atau bersama-sama kepada DPR.
  • DPR tidak dapat memaksa menteri meletakkan jabatan.
  1. Tahun 1950 – 1959  (Penyelenggaraan Kekuasaan Pemerintahan Pada Masa UUDS 1950 (1950-1959).

Landasannya adalah UUD ’50 pengganti konstitusi RIS ’49. Sistem Pemerintahan yang dianut adalah kabinet parlementer dengan demokrasi liberal yang masih bersifat semu. Ciri-ciri pemerintahannya adalah sebagai berikut:

  1. Presiden dan wakil presiden tidak dapat diganggu gugat.
  2. Menteri bertanggung jawab atas kebijakan pemerintahan.
  3. Presiden berhak membubarkan DPR.
  4. Perdana Menteri diangkat oleh Presiden.
  5. Presiden berkedudukan sebagai kepala negara yang dibantu oleh seorang wakil presiden.
  6. Perdana menteri memimpin kabinet.
  7. Menteri-menteri bertanggungjawab kepada DPR.

Fungsi-fungsi Kekuasaan Badan Legislatif, Eksekutif dan Yudikatif

  1. 1.      Fungsi Kekuasaan Legislatif

Lawmaking adalah fungsi membuat undang-undang.

Constituency Work adalah fungsi badan legislatif untuk bekerja bagi para pemilihnya.

Supervision and Critism of Government, berarti fungsi legislatif untuk mengawasi jalannya pelaksanaan undang-undang oleh presiden/perdana menteri, dan segera mengkritiknya jika terjadi ketidaksesuaian.

Education adalah fungsi DPR untuk memberikan pendidikan politik yang baik kepada masyarakat.

Representation, merupakan fungsi dari anggota legislatif untuk mewakili pemilih.

  1. 2.      Fungsi Kekuasaan Eksekutif

Chief of State artinya kepala negara, jadi seorang Presiden atau Perdana Menteri merupakan kepala suatu negara, simbol suatu negara.

Head of Government, artinya adalah kepala pemerintahan.

Party Chief berarti seorang kepala eksekutif sekaligus juga merupakan kepala dari suatu partai yang menang pemilu.

Commander in Chief adalah fungsi mengepalai angkatan bersenjata.

Chief Diplomat, merupakan fungsi eksekutif untuk mengepalai duta-duta besar yang tersebar di perwakilan negara di seluruh dunia.

Dispenser of Appointment merupakan fungsi eksekutif untuk menandatangani perjanjian dengan negara lain atau lembaga internasional.

Chief Legislation, adalah fungsi eksekutif untuk mempromosikan diterbitkannya suatu undang-undang.

  1. 3.      Fungsi Kekuasaan Yudikatif

Kekuasaan Yudikatif berwenang menafsirkan isi undang-undang maupun memberi sanksi atas setiap pelanggaran atasnya. Fungsi-fungsi Yudikatif yang bisa dispesifikasikan kedalam daftar masalah hukum berikut :

  1. Criminal law (petty offense, misdemeanor, felonies);
  2. Civil law Constitution law (perkawinan, perceraian, warisan, perawatan anak); (masalah seputan penafsiran kontitusi);
  3. Administrative law (hukum yang mengatur administrasi negara);
  4. International law (perjanjian internasional).

Teori GroupThink

1. Sifat-sifat dari kepribadian kelompok

2. Struktur internal hubungan antar anggota

3. Sifat keanggotaan kelompok

Dasar hukum yang termuat dalam UUD 1945 mengenai penegasan pemisahan kekuasaan dalam penerapan konsep Trias Politica di Indonesia adalah:

  1. Pasal 22E ayat 1 dan ayat 2 di mana Pemilihan Umum (i) anggota Dewan Perwakilan Rakyat, (ii) anggota Dewan Perwakilan Daerah, (iii) Presiden dan Wakil Presiden, dan (iv) anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dilakukan secara langsung, umum, bebas dan rahasia, jujur dan adil setiap lima tahun sekali.
  2. Pasal 24 ayat 1 dengan tegas mengatakan bahwa Kekuasaan Kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan.
  3. Pasal 7C yang menyatakan bahwa Presiden tidak dapat membekukan dan/atau membubarkan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s